Profil Presiden Gamapinsa:
| Saeful Akhyar |
Nama saya Saeful Akhyar, lahir di
Cianjur 9 Maret 1990. Bertani adalah
mata pencaharian pokok keluarga saya. Barangkali sejak dari kakek buyut, kami memfasilitasi hidup dengan bercocok
tanam. Dan saya bersyukur telah dilahirkan dari keluarga yang biasa biasa saja,
karena dari sini saya mulai memperlajari hal yang saat ini saya ketahui sebagai
“perjuangan”.
Tidak pernah terfikirkan
sebelumnya akan bisa menjalani hidup sampai saat ini. Bahkan sejak kecil saya
tidak pernah bermimpi bisa mengenyam pendidikan apalagi berani berkenalan dengan
cita-cita,. Sampai lulus SD pun keluarga sangat bersyukur.
Saya tidak pernah menolak melanjutkan
hidup sebagai generasi petani. Tapi waktu berkehendak lain, ada karunia yang
ternyata Allah titipkan kepada saya. Kegemaran membaca menjadi modal awal saya
untuk bisa bertahan di sekolah. Hingga akhirnya saya diizinkan untuk melanjutkan
belajar sampai pendidikan tingkat menengah, dengan modal pas-pasn tentunya
(saat itu sekolah belum ada batuan operasional sekolah).
Saat-saat galau baru mulai dirasakan setelah duduk di bangku SMA. Saat semua
rekan sebaya gencar memperbicangkan masa depan, saya malah takut mendengar
frasa tersebut. Pasalnya tak ada jaminan bagi saya untuk bisa melanjutkan
pendidikan. Mendengar puluhan juta yang yang harus dikeluarkan membuat saya
sempat ragu. Hanya bermodalkan tekad saya mencoba cari peruntungan. Dengan
persiapan seadanya saya mengikuti berbagai seleksi mandiri bebrapa di beberapa
PTN. Dan akhirnya dinyatakan lolos sebagai mahasiswa Astronomi ITB.
Menjatuhkan pilihan sebagai
mahasiswa Astronomi ITB, ternyata bukan hal yang sederhana. Banyak pihak yang
harus saya yakinkan, termasuk diri saya sendiri, mengingat Astronomi bukanlah
bidang strategis yang nantinya bisa menjadi mesin penghasil uang. Serangan
pertanyaan harus saya jawab dengan yakin, bahwa ilmu pengetahuan tidak bisa
disetarakan dengan materi. Dan saya sadar bahwa masa depan sedang
dipertaruhkan.
“Mau jadi apa? Nantinya kerja
dimana?” adalah pertanyaan yang sering manghantui. Karena sebagai orang pertama
dari keluarga yang bisa kuliah, saya memilki beban tersendiri harus bisa
kembali dengan menggondol kesuksesan.
Akhirnya saya yakinkan. ”Innallaha ma’ana”.
Saat ini saya sudah menjalani
enam semester di program studi astronomi dengan bantuan Beasiswa Pemimpin
Bangsa. Di sini saya belajar bagaimana Allah menjelaskan kekuasaannya dalam
bahasa sains. Dan saya yakin bahwa bukan materi yang akan meninggikan derajat
seseorang, tapi dua hal yaitu ilmu dan taqwa.
Sebesar apapun perubahan akan
saya perjuangkan, tak peduli dengan predikat. Yang penting saya bekerja,
berusaha, dan berdoa. Semoga Allah memberi kekuatan bagi saya untuk bergerak.
Kawan, kini giliranmu
memeperjuangkan mimpimu!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar