Jilbab. Mendengar kata itu, beberapa bulan yang lalu, mungkin yang terbenak di kepalaku adalah sebuah penutup kepala yang dipakai kaum muslimah. Namun ternyata, apa yang aku pahami selama belasan tahun ini salah. Aku baru memahami makna jilbab sebenarnya dan kewajiban memakainya sekitar beberapa minggu yang lalu. Seorang kakak tingkat menjelaskan padaku, bahwa jilbab yang dimaksud disini adalah yang sering kita sebut sebagai gamis. “Tapi, selama ini aku nutup aurat, make rok, make baju atasan yang panjang, nggak tipis, nggak ketat… nggak apa-apa dong, kak?” Wah, persepsi aku tentang hal ini runtuh ketika yang dikatakan bukan lagi dari persepsi si kakak, tapi dari Qur’an dan hadits, serta tafsir beberapa ulama.
“Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu'min, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.."(QS Al Ahzab: 59)
Aku yang selama ini ketar-ketir bingung memikirkan hal ini semenjak sudah mengetahuinya (sebelum si kakak menjelaskan), jadi semakin gemetar melihat pakaian yang kupakai saat itu. Jadi, selama ini, setertutup apa pakaianku, ternyata masih melanggar syara’? Huaaaa TT0TT
Setelah itu, ketika perjalanan pulang, di jalan, di angkot, aku malu! Tak tahan rasanya ingin cepat-cepat sampai. Serasa tak berpakaian, serasa menanggung beban yang aku tahu; bernama dosa. Dosa telah melanggar syari’atNya. Namun ada yang aku lebih sedihkan lagi. Ummati. Dimanapun aku berada, jarang sekali yang kulihat memakai jilbab. Kebanyakan aktivis dakwah pun berpakaian sama sepertiku saat itu; rok panjang, kerudung panjang, dan baju atasan yang panjangnya tak sampai mata kaki. Dulu, sebelum aku berpakaian seperti itu, aku merasa apa yang dipakai para aktivis dakwah sangaaaat baik. Mereka menjaga diri mereka dan attitude mereka itu lho, wah, anggun banget! Tapi ternyata belum sempurna apa yang mereka pakai… sedihnya, terasa percuma aja euy selama ini! :-(
Aku yang saat itu tak punya jilbab, menyegerakan diri untuk meminjam pada temanku yang sudah berjilbab. Aku tak peduli pandangan orang lain karena dalam hadits pun Rasulullah menyuruh kepada saudara seorang muslimah untuk meminjamkan jilbab apabila ia tak memilikinya.
Esoknya, 23 Februari 2012, aku siap berkomitmen untuk berjilbab. Masih ketar-ketir soal pakaian? Oh nggak dong, dan rasanya senang bukan main; hati tenang euy! :D :D
Apa setelah itu orang lain diam? Hm, beberapa hari tak lama, sebagian temanku mulai berkilah melihat aku yang suka minjam jilbab
“Islam itu nggak memberatkan kok…”
“Itu kan pas zamannya rasul, dulu mah muslimah make bajunya bukan yang kayak sekarang, tapi pake semacam selimut/gorden gitu, sekarang mah menyesuaikan, Vi...”
Aku sempat nangis juga, memikirkan jilbab dan pendapat teman2 asramaku yang seolah tak mendukungku. Aih, lantas apa yang dikatakan Qur’an itu hanya disesuaikan untuk orang terdahulu? Lha, yang berbeda dengan zaman dulu dan sekarang kan hanya cara, bukan tata caranya. Tentu aja kalau dulu Rasulullah berkendara pake onta, sekarang kita gak mungkin pake onta juga kan? Semua yang disyari’atkan Allah dalam Qur’an-Nya persis ditujukan untuk seluruh umat hingga akhir zaman. Dan Islam nggak memberatkan? Lha, memang pakai jilbab memberatkan ya? Nggak kok, sama aja rasanya kayak pakai rok kalau gerak kemana-mana juga. Nggak ada alasan syar’i untuk menentang syara’ yang satu ini kalau berada di tempat umum dimana laki-laki dan perempuan bercampur. Seperti inilah yang diperintahkan, aku dengar ya aku taat dong (ce’ila~). Dan semua syari'at yang telah Allah tetapkan sudah pasti sesuai dengan kesanggupan manusia, sesuai dengan fitrahnya manusia. Tidak memberatkan!
Lalu datanglah hari dimana aku harus lari, eh maksudnya ceritanya lagi mau ada pelajaran olah raga gitu nih. Heheh. Pakaian olahraga yang dipakai kan celana, bukan rok, apalagi jilbab. Mulai perang batin lagi, “udah pake aja itu celana… toh longgar ini kan?” itulah bisikan setan yang menghantuiku menuju detik-detik keputusanku. Dan terngiang-ngiang lagi mengenai 'slam itu mudah, tak menyusahkan perkataan temanku. Terdengar argumen "kondisi darurat nih". Parah banget sempat kepikiran begitu! Dan aku juga takut tabarruj (menarik perhatian) karena ga ada yang memakai jilbab saat olahraga. Tapi sehari sebelum praktek olah raga ke lapangan, alhamdulillah Allah melangkahkan kakiku untuk bertemu seseorang yang mengingatkanku lagi, untuk tidak memikirkan "yang penting..." tapi pikirkanlah, melanggar hukum syara' atau tidakkah kita? Tabarruj memang harus dihindari, tapi bukan dengan melanggar syara' dong. Dan apakah dengan memakai jilbab akan mengancam jiwa kita? Tidak kan? Kita bisa melakukannya, maka itu bukan dalam kondisi darurat. Hatiku mantap deh untuk tetap berjilbab. Terlebih setelah mendengar perjuangan kakak tingkatku yang berjilbab saat olahraga sulit, namun beliau tetap istiqomah untuk tidak melanggar syara'. Aku jadi malu sendiri rasanya melihat lemahnya diriku. Hu hu.
Esoknya saat pelajaran olahraga, mengharuskan lari 6 putaran sejauh kurang lebih 2,4km. Aku paling ga kuat lari euy :-( hehe. Tapi dengan jilbab aku merasa setiap pergerakanku adalah ibadah, untukNya aku begini, jika mungkin ada yang terheran-heran melihat apa yang aku pakai saat olahraga. Selama pelajaran olahraga berlangsung, alhamdulillah tidak ada yang menyulitkan ^__^. Si ibu dosen tidak begitu memperhatikan atau menghiraukanku.
Jadi? Masih mau bilang jilbab itu memberatkan dan nggak zaman?
"Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Jadikanlah semua perbuatanmu ibadah kepadaNya dengan menaati syari'atNya setiap waktu dalam hidupmu!
^__^
wah, pasti teh Nia. :p
BalasHapusshocked lah tahu bahwa kau itu adik kelasnya teh nia -___-"
BalasHapus