Di
sela penat, penuh pikiran, banyak tugas, kerjaan numpuk, kuliah, amanah, dan hal-hal lain yang
menyibukkan, pernah nggak sih kita merenung sejenak dan memikirkan beberapa hal
dasar mengenai diri kita?
Sebenarnya
kita berasal dari mana?
Untuk
apa kita ada di dunia?
Dan
setelah selesai di dunia, kita mati, apa yang terjadi pada kita setelahnya dan
akan kemana?
Ketidaktahuan
atau ketidakjelasan tentang diri kita sebenarnya memang sepertinya tidak pernah
lepas dari kehidupan, terutama para remaja dan ABG zaman sekarang. Berbagai
kabar berita sekitar remaja seringkali menunjukkan betapa banyak remaja yang
masih bingung dengan jati diri. Mulai dari maraknya tawuran antar pelajar untuk
membuktikan siapa yang ‘paling jago’, terjerat narkoba demi ‘kesetiakawanan’,
hingga banyaknya angka ‘kecelakaan’ di luar nikah atas nama cinta plus aborsi
yang nggak tanggung-tanggung dosanya. Fakta tersebut adalah sederet kasus yang
menunjukkan betapa mayoritas kita belum atau nggak ngerti dengan jati dirinya
sendiri sebagai seorang manusia.
Ngomongin soal jati diri, kenapa sih kita harus ngomongin
soal jati diri? Ya, karena secara fitrah, sebenarnya manusia memiliki
kecenderungan untuk berbuat baik, lho. Namun, hal itu tidak memberikan suatu
jaminan bahwa setiap orang akan berkelakuan dan berakhlak baik, tergantung pada
pemikiran dan pemahaman akan jati dirinya yang sebenarnya.
Nah, apabila ketiga pertanyaan tersebut telah terjawab
oleh seorang manusia, akan terjawab pula pertanyaan-pertanyaan cabang yang
lain. Jawaban terhadap permasalahan mendasar manusia itulah yang kemudian
disebut dengan Aqidah. Adapun syarat sebuah aqidah yang benar haruslah sesuai
dengan fitrah manusia, dapat memuaskan dan diterima akal manusia, dan memberi
ketenangan batin dan menentramkan hati manusia. Lalu, bagaimana jawaban yang
menjadi aqidah kaum muslimin terhadap pertanyaan itu?
Para kaum kapitalis mungkin akan menjawab: “manusia itu diciptakan dari materi, kalau
mati yaa jadi materi juga. Lalu hidup di dunia? Yaa untuk mencari
materi juga laah”. Haduh, haduh. Cek, cek, apa itu pemikiran kita selama
ini tentang jati diri hidup kita, sehingga banyak manusia yang menjadikan hedonisme
dan materi sebagai jalan hidupnya? Yo, kita lurusin dulu, nih, bagaimana
seharusnya kaum muslimin menjawabnya.
Pertama, bahwa sebelum kehidupan dunia ada Allah SWT
dan kita semua berasal dari-Nya. Mengapa kita mengimani adanya Allah? Sebenarnya
setiap manusia yang berakal mampu untuk membuktikan tentang eksistensi
(keberadaan) Allah SWT, yaitu dengan memperhatikan makhluk ciptaan-Nya. Hal ini
akan membuktikan bahwa tidak mungkin sesuatu itu ada tanpa ada yang telah
mengadakan (Pencipta). Allah bahkan
mengajak dan memerintahkan kita untuk mengadakan perenungan dan pemikiran
tentang-Nya dengan memerhatikan ciptaan-Nya.
“Apakah mereka tidak
memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia
ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia
dihamparkan?” (QS. AL-Ghasyiyah: 17-20)
“Hendaklah manusia
memperhatikan, bagaimana ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang memancar,
yang keluar di antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” (QS. Ath-Thaariq: 5-7)
Namun, meskipun menggunakan akal itu wajib dalam
beriman kepada Allah, tidak setiap hal yang wajib diimani dapat dicapai oleh
akal manusia. Bagaimana pun jenius dan pandainya pemikiran seseorang, pada
dasarnya dia tetap memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, akal manusia tidak
akan pernah mampu memahami Dzat dan Hakikat Allah SWT, sebab Allah berada di
luar ketiga unsur pokok alam (alam semesta, manusia, dan kehidupan). Hendaknya,
ketidakmampuan kita untuk memahami-Nya justru menambah besar keimanannya karena
hal itu menunjukkan kelemahannya sebagai makhluk dan ketidakterbatasan
kekuasaan Allah SWT.
Lalu, mengapa Allah menghadirkan kita di dunia? Untuk
apa? Apa kita hanya lahir, tumbuh besar, lalu masuk sekolah, beranjak
dewasa dan mendapatkan pekerjaan, menikah, punya anak, lalu mati? Apa hanya
untuk melewati siklus itu sajakah makna hidup kita yang telah Allah berikan ke
setiap manusia selama ini?
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara
main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS.
Al-Mu'minuun: 115)
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Jelas Allah memiliki maksud menciptakan kita semua,
mas, mbak. Untuk beribadah, menaati apa yang diperintahkan oleh Yang
Menciptakan Kita, tentunya. Lho, memang harus ya?
Hm, analoginya begini deh. Misal kita menciptakan
sebuah robot, pasti kita punya tujuan yang tentunya menjadikan kita ‘like a
boss’ lah ya, ga mungkin itu robot malah ngatur-ngatur kita. Dan kita pasti akan
berusaha untuk menghindarkannya dari hal-hal yang akan merusaknya, karena yang
paling tahu tentang ciptaan kita kan ya kita sendiri. Nah, begitu juga dengan
Allah. Semua yang diperintahkan itu pasti sesuai kok dengan fitrah kita sebagai
manusia, tidak merusak kita, bahkan menunjukkan jalan yang lurus untuk
menyelamatkan kita dari dunia ini. Itulah mengapa ada Al-Qur’an dan mengapa
kita harus menjadikannya pedoman hidup. Karena yang tahu tentang diri kita
tidak lain ya Yang Menciptakan Kita, bukan?
Setelah kita hidup di dunia, ada masanya kita akan
merasakan mati. Apakah semuanya berakhir disana saja? Atau ada kelanjutannya?
“Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan. “ (QS.
Ali ‘Imran: 185)
Ayat di atas menjelaskan adanya hari kiamat, serta syurga dan neraka, sebagai tempat terakhir yang akan kita tempati setelah mati. Syurga, itulah kampung halaman kita sebenarnya, masbro, mbaksis. Untuk pulang ke kampung halaman kita itu, tentu kita butuh bekal yang cukup agar sampai tujuan. Nah, inilah yang menjadi penghubung dengan kehidupan kita di dunia. Umur, sebuah nikmat yang tak ternilai! Kita diberi umur di dunia untuk mencari bekal kita pulang ke syurga. Imam Hasan Al Basri yang patut menjadi teladan dalam menggunakan waktunya secara efektif pernah berkata,
“Aku
sangat terpukul oleh satu kalimat yang pernah kudengar dari Hajjaj, ketika ia
berkhutbah di atas mimbar ini. Sesungguhnya ‘satu saat’ dari umur seseorang
telah hilang atau sirna untuk sesuatu di luar hakikat manusia diciptakan maka
pantas jika ‘sesaat’ itu menjadi penyesalan seumur hidupnya hingga hari kiamat
tiba.”
Ungkapan
di atas bukanlah sebuah khayalan yang tidak memiliki fakta ataupun makna.
Namun, ungkapan tersebut adalah sebuah kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah
SAW : “Tidak ada sesuatu yang paling
disesali oleh para penghuni syurga, kecuali atas satu saat yang pernah mereka
lalui di dunia, yang tidak mereka gunakan utnutk mengingat Allah di dalamnya.” (HR.
Thabrani)
Lho, lho, kok yang
menyesal justru para penghuni syurga? Ya, para penghuni syurga saja menyesalkan
sebagai manusia biasa, mereka pun juga pernah lalai dan lengah, dan inilah yang
mereka sesalkan. Jika demikian kenyataannya, itu artinya, sudah pasti
penyesalan penghuni neraka akan lebih pahit dan mendalam ketika menyadari
kesia-siaan waktu mereka ketika di dunia.
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”(QS. AL-Faathir: 37)
Betapa menyesalnya orang-orang yang menyia-nyiakan hidupnya di dunia. Kita yang sudah mengetahui hakikat kita di dunia, maka apa pilihan kita sekarang? Kehidupan seorang manusia rata-rata nggak jauh dari umur saat Rasulullah wafat. Itu nggak lama, kok, dibanding lamanya kita di alam kubur nanti, atau di akhirat yang kekal. Hebatnya kaum muslimin dibanding yang lain adalah kita tidak diperintahkan untuk mencintai dunia, sehingga kita sibuk berharap agar dipanjangkan umur, tapi kita benar-benar diingatkan tentang indahnya kehidupan setelah ini jika kita bisa meraihnya. Tapi, apa yang terjadi saat ini? Banyak saudara seiman kita yang sibuk bergalau, dan takut jika dihadapkan pada kematian.
Diriwayatkan dari Tqausan r.a Rasulullah SAW bersabda: “akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa didunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan”. Salah seorang sahabat bertanya: “apakah karena jumlah kami dimasa itu sedikit”. Rasulullah menjawab : “jumlah kalian banyak tapi seperti buih dilautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahan’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi :“apakah penyakit ‘wahan’ itu ya rasulullah?” Beliau bersabda : “ Cinta kepada dunia dan takut mati”
Life is choice, saudaraku. Tidak semua orang yang tahu akan hakikatnya di dunia akan menggunakan umurnya untuk melakukan sebagaimana tujuan Allah menciptakan manusia. Sebagai sesama muslim, bukankah tiada hal yang lebih indah daripada melihat sesama kita selalu saling mengingatkan kepada Allah, tempat kita kembali? ^__^
Wallahu
a’lam bisshawwab.