Halaman

Kamis, 24 Mei 2012

Tentang Kita

Di sela penat, penuh pikiran, banyak tugas, kerjaan numpuk,  kuliah, amanah, dan hal-hal lain yang menyibukkan, pernah nggak sih kita merenung sejenak dan memikirkan beberapa hal dasar mengenai diri kita?
Sebenarnya kita berasal  dari mana?
Untuk apa kita ada di dunia?
Dan setelah selesai di dunia, kita mati, apa yang terjadi pada kita setelahnya dan akan kemana?
Ketidaktahuan atau ketidakjelasan tentang diri kita sebenarnya memang sepertinya tidak pernah lepas dari kehidupan, terutama para remaja dan ABG zaman sekarang. Berbagai kabar berita sekitar remaja seringkali menunjukkan betapa banyak remaja yang masih bingung dengan jati diri. Mulai dari maraknya tawuran antar pelajar untuk membuktikan siapa yang ‘paling jago’, terjerat narkoba demi ‘kesetiakawanan’, hingga banyaknya angka ‘kecelakaan’ di luar nikah atas nama cinta plus aborsi yang nggak tanggung-tanggung dosanya. Fakta tersebut adalah sederet kasus yang menunjukkan betapa mayoritas kita belum atau nggak ngerti dengan jati dirinya sendiri sebagai seorang manusia.
         Ngomongin soal jati diri, kenapa sih kita harus ngomongin soal jati diri? Ya, karena secara fitrah, sebenarnya manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik, lho. Namun, hal itu tidak memberikan suatu jaminan bahwa setiap orang akan berkelakuan dan berakhlak baik, tergantung pada pemikiran dan pemahaman akan jati dirinya yang sebenarnya.
Nah, apabila ketiga pertanyaan tersebut telah terjawab oleh seorang manusia, akan terjawab pula pertanyaan-pertanyaan cabang yang lain. Jawaban terhadap permasalahan mendasar manusia itulah yang kemudian disebut dengan Aqidah. Adapun syarat sebuah aqidah yang benar haruslah sesuai dengan fitrah manusia, dapat memuaskan dan diterima akal manusia, dan memberi ketenangan batin dan menentramkan hati manusia. Lalu, bagaimana jawaban yang menjadi aqidah kaum muslimin terhadap pertanyaan itu?
Para kaum kapitalis mungkin akan menjawab: “manusia itu diciptakan dari materi, kalau mati yaa  jadi materi juga. Lalu hidup di dunia? Yaa untuk mencari materi juga laah”. Haduh, haduh. Cek, cek, apa itu pemikiran kita selama ini tentang jati diri hidup kita, sehingga banyak manusia yang menjadikan hedonisme dan materi sebagai jalan hidupnya? Yo, kita lurusin dulu, nih, bagaimana seharusnya kaum muslimin menjawabnya.
Pertama, bahwa sebelum kehidupan dunia ada Allah SWT dan kita semua berasal dari-Nya. Mengapa kita mengimani adanya Allah? Sebenarnya setiap manusia yang berakal mampu untuk membuktikan tentang eksistensi (keberadaan) Allah SWT, yaitu dengan memperhatikan makhluk ciptaan-Nya. Hal ini akan membuktikan bahwa tidak mungkin sesuatu itu ada tanpa ada yang telah mengadakan (Pencipta).  Allah bahkan mengajak dan memerintahkan kita untuk mengadakan perenungan dan pemikiran tentang-Nya dengan memerhatikan ciptaan-Nya.

“Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. AL-Ghasyiyah: 17-20)

“Hendaklah manusia memperhatikan, bagaimana ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang memancar, yang keluar di antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” (QS. Ath-Thaariq: 5-7)

Namun, meskipun menggunakan akal itu wajib dalam beriman kepada Allah, tidak setiap hal yang wajib diimani dapat dicapai oleh akal manusia. Bagaimana pun jenius dan pandainya pemikiran seseorang, pada dasarnya dia tetap memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, akal manusia tidak akan pernah mampu memahami Dzat dan Hakikat Allah SWT, sebab Allah berada di luar ketiga unsur pokok alam (alam semesta, manusia, dan kehidupan). Hendaknya, ketidakmampuan kita untuk memahami-Nya justru menambah besar keimanannya karena hal itu menunjukkan kelemahannya sebagai makhluk dan ketidakterbatasan kekuasaan Allah SWT.
Lalu, mengapa Allah menghadirkan kita di dunia? Untuk apa? Apa kita hanya lahir, tumbuh besar, lalu masuk sekolah, beranjak dewasa dan mendapatkan pekerjaan, menikah, punya anak, lalu mati? Apa hanya untuk melewati siklus itu sajakah makna hidup kita yang telah Allah berikan ke setiap manusia selama ini?

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu'minuun: 115)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jelas Allah memiliki maksud menciptakan kita semua, mas, mbak. Untuk beribadah, menaati apa yang diperintahkan oleh Yang Menciptakan Kita, tentunya. Lho, memang harus ya?
Hm, analoginya begini deh. Misal kita menciptakan sebuah robot, pasti kita punya tujuan yang tentunya menjadikan kita ‘like a boss’ lah ya, ga mungkin itu robot malah ngatur-ngatur kita. Dan kita pasti akan berusaha untuk menghindarkannya dari hal-hal yang akan merusaknya, karena yang paling tahu tentang ciptaan kita kan ya kita sendiri. Nah, begitu juga dengan Allah. Semua yang diperintahkan itu pasti sesuai kok dengan fitrah kita sebagai manusia, tidak merusak kita, bahkan menunjukkan jalan yang lurus untuk menyelamatkan kita dari dunia ini. Itulah mengapa ada Al-Qur’an dan mengapa kita harus menjadikannya pedoman hidup. Karena yang tahu tentang diri kita tidak lain ya Yang Menciptakan Kita, bukan?
Setelah kita hidup di dunia, ada masanya kita akan merasakan mati. Apakah semuanya berakhir disana saja? Atau ada kelanjutannya?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. “  (QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat di atas menjelaskan adanya hari kiamat, serta syurga dan neraka, sebagai tempat terakhir yang akan kita tempati setelah mati. Syurga, itulah kampung halaman kita sebenarnya, masbro, mbaksis. Untuk pulang ke kampung halaman kita itu, tentu kita butuh bekal yang cukup agar sampai tujuan. Nah, inilah yang menjadi penghubung dengan kehidupan kita di dunia. Umur, sebuah nikmat yang tak ternilai! Kita diberi umur di dunia untuk mencari bekal kita pulang ke syurga. Imam Hasan Al Basri yang patut menjadi teladan dalam menggunakan waktunya secara efektif pernah berkata,
“Aku sangat terpukul oleh satu kalimat yang pernah kudengar dari Hajjaj, ketika ia berkhutbah di atas mimbar ini. Sesungguhnya ‘satu saat’ dari umur seseorang telah hilang atau sirna untuk sesuatu di luar hakikat manusia diciptakan maka pantas jika ‘sesaat’ itu menjadi penyesalan seumur hidupnya hingga hari kiamat tiba.”
Ungkapan di atas bukanlah sebuah khayalan yang tidak memiliki fakta ataupun makna. Namun, ungkapan tersebut adalah sebuah kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Tidak ada sesuatu yang paling disesali oleh para penghuni syurga, kecuali atas satu saat yang pernah mereka lalui di dunia, yang tidak mereka gunakan utnutk mengingat Allah di dalamnya.” (HR. Thabrani)
Lho, lho, kok yang menyesal justru para penghuni syurga? Ya, para penghuni syurga saja menyesalkan sebagai manusia biasa, mereka pun juga pernah lalai dan lengah, dan inilah yang mereka sesalkan. Jika demikian kenyataannya, itu artinya, sudah pasti penyesalan penghuni neraka akan lebih pahit dan mendalam ketika menyadari kesia-siaan waktu mereka ketika di dunia.

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”(QS. AL-Faathir: 37)

Betapa menyesalnya orang-orang yang menyia-nyiakan hidupnya di dunia. Kita yang sudah mengetahui hakikat kita di dunia, maka apa pilihan kita sekarang? Kehidupan seorang manusia rata-rata nggak jauh dari umur saat Rasulullah wafat. Itu nggak lama, kok, dibanding lamanya kita di alam kubur nanti, atau di akhirat yang kekal. Hebatnya kaum muslimin dibanding yang lain adalah kita tidak diperintahkan untuk mencintai dunia, sehingga kita sibuk berharap agar dipanjangkan umur, tapi kita benar-benar diingatkan tentang indahnya kehidupan setelah ini jika kita bisa meraihnya. Tapi, apa yang terjadi saat ini? Banyak saudara seiman kita yang sibuk bergalau, dan takut jika dihadapkan pada kematian.

Diriwayatkan dari Tqausan r.a Rasulullah SAW bersabda: “akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa didunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan”. Salah seorang sahabat bertanya: “apakah karena jumlah kami dimasa itu sedikit”. Rasulullah menjawab : “jumlah kalian banyak tapi seperti buih dilautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahan’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi :“apakah penyakit ‘wahan’ itu ya rasulullah?” Beliau bersabda : “ Cinta kepada dunia dan takut mati”

Life is choice, saudaraku. Tidak semua orang yang tahu akan hakikatnya di dunia akan menggunakan umurnya untuk melakukan sebagaimana tujuan Allah menciptakan manusia. Sebagai sesama muslim, bukankah tiada hal yang lebih indah daripada melihat sesama kita selalu saling mengingatkan kepada Allah, tempat kita kembali?  ^__^
Wallahu a’lam bisshawwab.