Halaman

Jumat, 13 April 2012

Ketika Wanita Meminta Hak Melebihi Fitrahnya


Belakangan ini terdengar munculnya Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG). Hah apakah itu? Entahlah, pemerintah berulah lagi terhadap rakyatnya yang padahal mereka tahu mayoritas muslim. Yang pasti aku menolak, karena cobalah kalian runut baik-baik, jauh menyimpang dari syari'ah.  -__-'

Karena justru banyak yang mendukung, coba aku jelaskan sedikit deh.

Yah berikut beberapa isinya,


Pasal  12
Dalam perkawinan setiap orang berhak:
a. memasuki jenjang perkawinan dan memilih istri atau suami secara bebas;
b. memiliki relasi yang setara antara suami dan istri;
c. atas peran yang sama sebagai orang tua dalam urusan yang berhubungan dengan anak;
d. menentukan secara bebas dan bertanggung jawab menentukan jumlah anak dan jarak kelahiran;
e. atas perwalian, pemeliharaan, pengawasaan, dan pengangkatan anak; dan
f. atas pemilikan, perolehan, pengelolaan, pemanfaatan, pemindahtanganan beserta pengadministrasian harta benda.


Negara berkewajiban untuk:
1.   melindungi setiap orang dari segala bentuk diskriminasi;
2.  mewujudkan kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang setara dan adil.
3.  menjamin terlaksananya upaya penghapusan diskriminasi dalam bidang hukum, politik, sosial, ekonomi dan budaya;
4. membentuk peraturan perundang-undangan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya untuk menjamin kesetaraan dan keadilan gender.
5.  menyusun tindakan khusus sementara untuk mewujudkan kesamaan dalam memperoleh akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat  pembangunan antara perempuan dan laki-laki di semua bidang kehidupan;
6.   menyusun dan melaksanakan kebijakan yang tepat untuk mengubah perilaku sosial dan budaya yang tidak mendukung kesetaraan dan keadilan gender; dan
7.   Memberikan jaminan terhadap status kewarganegaraan perempuan agar tidak berubah secara otomatis sebagai akibat dari perkawinan dengan orang asing.

Pasal 15
Setiap warga negara berkewajiban untuk:
1.      mencegah terjadinya kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan yang merendahkan martabat manusia;
2.     memberikan informasi yang benar dan bertanggung jawab kepada pihak yang berwenang jika mengetahui terjadinya kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan yang merendahkan martabat manusia;
3.      melakukan upaya pelindungan korban kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan yang merendahkan martabat manusia;
4.      menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan gender kepada anak sejak usia dini dalam keluarga;
5.      membangun relasi yang setara antara perempuan dan laki-laki; dan
6.      memenuhi tanggung jawab yang sama sebagai orangtua dalam urusan yang berhubungan dengan anak.

Gila, mereka menginginkan posisi kepala keluarga bisa dimiliki pada wanita? Wanita bisa seenaknya menuntut suaminya jika ia tak mau mendengar perintah suaminya? Para perancang RUU ini mayoritas muslim, lho. Apa benar-benar nggak sadar sudah menyimpang dari aturan Allah, atau memang sengaja mereka mengabaikan kitab mereka sendiri? Ya sudahlah, makin lama pemerintah itu memang semakin jauh saja dari kaidah Islam. Lha wong sistem yang mereka buat aja udah nggak benar kok. :P

Anyway, mengenai RUU KKG ini sebenarnya bagaimana awalnya sih, kok bisa tiba-tiba ada?
Wanita protes, merasa terdiskriminasi? Merasa lebih rendah dari laki-laki??
Great, inilah yang diinginkan oleh barat. Membuat wanita merasa terdiskriminasi dan meminta hak yang lebih daripada fitrahnya. Inilah lanjutan dari Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW). Gerakan demi gerakan feminisme telah dicanangkan oleh barat, dan kini menyebar di seluruh dunia. Mereka ingin kita tertipu dengan kata-kata 'penghilangan diskriminasi' pada wanita. Padahal jauh daripada itu, inilah awal mula wanita menjadi lupa akan akan hakikatnya, mulai meminta lebih, bahkan ingin menikahi sesamanya! w(*A*w) Na'udzubillaahi min dzalik.

Cobalah runut isinya, kawan. RUU ini bisa mengobok-obok ranah keluarga! Dimana seorang ibu yang seharusnya ada untuk anaknya? Banyak wanita yang telah lupa pada hakikatnya sebagai wanita! Mereka memilih untuk menunda, bahkan untuk tidak memiliki anak, karena lebih mengutamakan posisinya dalam hal lain.
Bisakah kalian bayangkan, ketika seorang anak meminta untuk diberi makan, diberi arahan, dijawab segala pertanyaannya, diberi perlindungan, apa yang sebenarnya ia butuhkan untuk memenuhi semua itu? Hanya satu, ibu! 

Sebenarnya apa yang mereka, para wanita inginkan sih?
Ingin dihargai? Didengar pendapatnya? Diberi hak pendidikan? Diberi hak politik? Disayang? (ce'ila~)

Well, check these out.

Sabda Rasulullah,
"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dengan istri-istrinya." (HR. Ahmad dan Tarmidzi)

Dari Muawiyah bin Haidatal Qusyairi, "aku bertanya Rasulullah SAW, siapakah orang yang paling patut aku berbuat baik? Rasulullah SAW menjawab : ibumu, kemudian aku bertanya lagi siapa? Rasulullah menjawab : ibumu. Kemudian aku bertanya lagi siapa? Rasulullah menjawab: ibumu, kemudian aku bertanya lagi siapa? Rasulullah menjawab : bapakmu, kemudian orang yang paling hampir denganmu dan seterusnya." (Hadis Riwayat at-Tirmizi)
See? Islam sangaat memuliakan wanita.


Lalu apalagi? Menginginkan hak untuk mengenyam pendidikan? Islam tidak menjadikan menuntut ilmu adalah sebuah hak. Tetapi lebih daripada itu, menuntut ilmu merupakan kewajiban, dan tidak hanya bagi laki-laki, namun juga perempuan.
"Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat." (HR. Ibnu Abdil Bari)

Hak politik untuk wanita? Diberikan kok, coba lihat ketika Umar bin Khattab menyampaikan khutbah di atas mimbar, Umar menyampaikan bahwa Umar hendak membatasi mahar sebanyak 400 dirham, sebab nilai itulah yang dilakukan oleh Rasulullah, jika ada yang lebih dari itu maka selebihnya dimasukkan ke dalam kas negara. Hal ini diprotes langsung oleh seorang wanita, di depan orang-orang saat itu, dengan perkataannya: "Wahai Amirul mu'minin, engkau melarang mahar untuk wanita melebihi 400 dirham?" Umar menjawab: "Benar." Wanita itu berkata: "Apakah kau tidak mendengar firman Allah: 
"...sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?" (QS. An-Nisaa': 20)
Umar menjawab: "Ya Allah ampunilah, semua manusia lebih tahu dibanding Umar." Maka Umar pun meralat keputusannya. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/244. Imam Ibnu Katsir mengatakan: sanadnya jayyid qawi (baik lagi kuat). Sementara Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini menyatakan hasan li ghairih)

Dan ingatkah bahwa wanita itu awalnya diciptakan dari tulang apa? Apakah dari tulang tengkorak, dimana tempat paling tinggi maka memang seharusnya paling dihormati? Atau dari tulang kering, yang letaknya di bawah, kalau memang wanita biasa diinjak-injak (iya kaleee -_-' )?
Tapi, wanita itu awalnya diciptakan dari tulang rusuk, yang kedudukannya terletak di dada dan mudah dijangkau tangan. Artinya kan wanita memang diciptakan untuk disayangi~ dan dilindungi~. ya kan, ya kan~? #PLAKK
^^^wait, sumpah buat tulisan di atas aku hanya mengutip kata-kata kakak tingkatku ==v

Jadi, apa solusi dari teriakan wanita sekarang yang meminta haknya?? Hanya satu, yaitu Islam. Tapi, mengapa sekarang walau kita sudah menjadi muslim tapi masih saja terdengar adanya diskriminasi terhadap wanita? Masih saja ada kasus KDRT? Pemerkosaan? Dan tidak dihargainya pendapat dari wanita? Kemana Islam yang katanya melindungi, memuliakan, dan mendengarkan wanita??

Kawan-kawan, kita tidak bisa melihatnya, karena kemuliaan Islam dapat dilihat hanya ketika Islam diterapkan seluruhnya. Dan Islam tidak akan pernah bisa diterapkan seluruhnya tanpa adanya sistem Islam yang diterapkan. Dan sistem Islam tidak akan tegak tapa adanya suatu institusi berupa Daulah Khilafah Islamiyah.
Maka, ketika wanita sekarang meminta hak-haknya, apa yang seharusnya mereka perjuangkan? Tidak lain perjuangkanlah penegakkan Khilafah. Sadarkanlah kawan-kawan kita bahwa yang mereka butuhkan sebenarnya adalah tegaknya Islam sebagai dasar hukum di dunia, tegaknya hukum Allah, Yang menciptakan kehidupan. 
Bukan justru meminta agar disetarakan dengan laki-laki. Di hadapan Allah, laki-laki dan perempuan sama kok kedudukannya, tahu sendiri kan kalau yang membedakan kedudukan seseorang di hadapan PenciptaNya hanyalah tingkat ketaqwaannya. Dan memang, perempuan diciptakan dengan tenaga yang tidak sebesar laki-laki, pasti semua orang juga menyadari hal itu. Bayangkan jika gender memang disetarakan, ketika ada seorang ibu membawa karung beras, lalu ada seorang laki-laki melihatnya, maka bisa saja laki-laki tersebut akan berpikir, "ah, kan wanita atau laki-laki sudah setara sekarang. Berarti itu ibu kuat2 aja, sama kuatnya kayak laki-laki angkut beras." Penghargaan laki-laki terhadap wanita semakin runtuh!

Tidak sadarkah apabila manusia mulai menuntut lebih diluar yang telah ditetapkan oleh Allah, disanalah mereka memulai kebobrokan? Disanalah wanita memulai kebobrokan atas dirinya, ketika wanita tersebut menganggap syari’at Islam dalam menggunakan kerudung dan jilbab justru mendiskriminasikan dirinya. Tidakkah mereka berpikir bahwa syari’at yang ditetapkan Allah tersebut adalah penjagaan kehormatan untuknya? Justru dengan itulah mereka mendapat kebebasan untuk menjaga dirinya. Lihatlah iklan-iklan sekarang kebobrokannya, yang menjual wanita. Sebagai contoh, iklan mobil. Mereka lebih menonjolkan wanita dengan pakaian yang tidak syar’i disana. Untuk apa? Padahal dalam hal meningkatkan penjualan mobil tidak ada hubungannya dengan wanita disana.

Wahai para wanita, kaulah dalang dari setiap pembentukan generasi. Jagalah dirimu, hormati dirimu, dan kenalilah fitrahmu sebenarnya. Kalau kini kau merasa terdiskriminasi akan hakmu, yang kau butuhkan adalah Islam. Dan kamu baru bisa merasakan betapa Islam memuliakan wanita hanya ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, dalam Daulah Khilafah. Maka berjuanglah untuk menegakkannya!


'Wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya baik, maka baiklah negara itu, tapi bila wanitanya buruk, maka buruk pulalah negara itu.'' (al-hadist)


Wallahu a'lam bishawwab.