Halaman

Rabu, 31 Oktober 2012

Menggagas Pemikiran Alternatif untuk Kebangkitan Pemuda


Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2012 ini menjadi momen para pemuda unjuk rasa, salah satunya adalah Gerakan Pemuda Anti Korupsi. Gerakan ini menjadikan momen ini sebagai momen untuk mengikrarkan kembali ikrar sumpah pemuda yang saat 28 Oktober 1928 silam pernah pemuda Indonesia ikrarkan.
Secara garis besar, Thariq Mahmud, Ketua Pemuda Anti Korupsi, di Bundaran HI tadi mengungkapkan bahwa mengikrarkan kembali Sumpah Pemuda dan menambahkan dua kalimat (yakni berideologi satu, ideologi Pancasila, dan kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945 sesuai dengan teks aslinya) bertujuan agar pemuda Indonesia bisa kembali bangkit mencintai negara dan budayanya sendiri, para pemuda bisa bersatu dan kembali ke akar persatuan Indonesia, serta bisa bersatu untuk mengusir penjajah karena Indonesia tengah di ambang kehancuran, dan juga bisa mengingatkan kembali ideologi perjuangan karena banyak pemuda yang telah meninggalkan Pancasila sebagai patriotisme. "Pemuda memerankan penting dalam sejarah bangsa Indonesia dan untuk itu dia memanggil seluruh pemuda untuk memainkan peranan penting untuk membangun negara," ungkap Thariq.

Momen sumpah pemuda memang menjadi momen yang menarik untuk menyegarkan kembali ingatan bangsa Indonesia bahwa para pemuda memiliki andil dalam mewujudkan kebangkitan. Hal itu pula lah yang melandasi kembali diikrarkannya sumpah pemuda dengan dua kalimat tambahan. Dua kalimat tambahan yang diikrarkan menjadi materi yang menarik untuk dikaji.

Ideologi Pancasila serta UUD 1945 seolah menjadi perkara yang dikultuskan oleh bangsa ini. Keduanya ibarat obat mujarab atas segala penyakit yang diderita negara ini. Berisikan sejumlah cita-cita luhur bangsa yang merdeka, berdikari yang hendak mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Mengapa dua hal ini kembali digaungkan? Belumkah cukup internalisasi keduanya lewat pendidikan formal dan pengamalannya dalam kehidupan berbangsa? Ataukah keduanya sengaja dimunculkan sebagai bentuk perlawanan atas perjuangan Islam ideologis?

Lain di Jakarta lain pula di Bandung. Pada hari yang sama, ratusan pemuda dan simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia melakukan long march yang dimulai dari jalan wastu kencana dan berakhir di jalan asia afrika. Aksi ini mengkampanyekan Islam sebagai arus utama pergerakan pemuda. Disampaikan pula dalam salah satu orasi, bahwa kita tidak cukup hanya berbahasa satu, berbangsa satu, bertanah air satu, Indonesia. Karena Islam tidak hanya mengikatkan manusia sebatas wilayah geografis, Islam tidak mempersatukan manusia hanya berdasarkan ras maupun suku bangsa. Islam mengakui adanya perbedaan, tetapi tetap dapat mempersatukan manusia melalui ikatan aqidah. Persatuan ini jauh lebih universal dibandingkan persatuan karena faktor geografis maupun suku bangsa ataupun persatuan atas dasar perlawanan terhadap penjajahan. 
Mengikrarkan kembali berideologi satu, ideologi Pancasila memunculkan pertanyaan apakah kembali pada Pancasila akan mampu membawa pada kebangkitan? Dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia, rezim manakah yang dikatakan telah menegakkan ideologi Pancasila? Pada rezim mana Indonesia dikatakan menempuh jalan yang tepat? Sila pertama, “Ketuhanan yang Maha Esa”, bagaimana bangsa Indonesia melihat peran Tuhan? Tuhan yang telah menciptakan manusia lalu Tuhan pula yang membiarkan manusia hidup di dunia tanpa arahan aturan dariNya? Sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, apa pengejawantahan dari kata adil? Apa standar adil? Apa standar beradab? Sila ketiga, “Persatuan Indonesia”, bersatu dengan apa? Karena apa? Bersatu melawan penjajahan? Jika penjajahan secara fisik telah hilang, hilang pula faktor pemersatu? Bersatu melawan negara lain yang merebut kebudayaan? Tidakkah nampak seperti lelucon ketika perasaan bersatu baru muncul ketika ada “musuh bersama”? Tidakkah persatuan ini menjadi nampak bersifat temporal dan emosional? Sila keempat, “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Keinginan rakyat direpresentasikan dengan mendudukkan para “wakil mereka” di kursi parlemen untuk kemudian bermusyawarah dalam menentukan kebijakan yang tepat dalam mengatur urusan-urusan rakyat. Mari kita renungkan, berapa banyak perundang-undangan yang dihasilkan oleh lembaga legislatif ini dan berapa banyak yang ditentang oleh masyarakat? Dimana letak perwakilannya? Dimana letak kebijaksanaannya? Apa pula standar bijaksana? Sila kelima, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Bagaimana pula cara mewujudkan keadilan? Keadilan yang seperti apa?

Ketika Islam menjawab pertanyaan tersebut, Islam menjawab bahwa Tuhan adalah Allah, Allah itu esa, tidak dipersekutukan dengan yang lain, dan Allah menciptakan manusia di muka bumi beserta tata aturan dalam mengatur hubungan antar manusia. Tuhan tidaklah menciptakan manusia layaknya the watch maker, yang membuat jam lalu membiarkan jam itu beroperasi dengan sendirinya. Islam pun telah menetapkan segala peraturan yang komprehensif dalam menata hubungan intra dan antar manusia, pun hubungan antara dirinya dan Tuhannya. Adil dan beradab distandarkan pada syariat dimana syariat memiliki batasan-batasan baik-buruk, terpuji-tercela yang jelas tidak terjebak pada relativitas. Pun dalam hal persatuan, Islam adalah peradaban tertua yang tidak mengkastakan manusia berdasarkan warna kulit, keturunan, ataupun kedudukan yang membuat manusia tersandera dalam konflik. Semua manusia memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan antara yang satu dan yang lainnya hanyalah tingkat ketakwaannya di hadapan Allah. Musyawarah telah dikenal dalam Islam, tetapi Islam memiliki batasan yang jelas terkait perkara-perkara yang berada dalam ranah yang dibolehkan untuk dimusyawarahkan. Perkara-perkara yang telah jelas pengaturannya dalam Islam bukanlah perkara yang diperbolehkan untuk dimusyawarahkan untuk diubah. Akan tetapi, bukan berarti bahwa penerapan Islam sama dengan kediktatoran. Masyarakat memiliki hak untuk mengoreksi penguasa ketika para penguasa menerapkan aturan yang bertentangan dengan syariat. Siapapun dapat mengoreksi kebijakan penguasa selama ia memiliki bukti yang nyata dan aktivitas ini adalah aktivitas yang dipuji di dalam Islam bahkan pahalanya setara dengan pahala penghulu para syuhada. Islam pun memiliki konsep dan tata cara implementasi dalam mewujudkan kesejahteraan di tengah-tengah masyarakat. Islam memiliki konsep bagaimana tata cara distribusi kekayaan, sistem jaminan sosial, maupun seperangkat aturan perekonomian lainnya.

Dari paparan yang sangat singkat ini, tidakkah telah nampak bahwa Pancasila masihlah belum cukup menjadi landasan dalam mewujudkan kebangkitan? Dikarenakan Pancasila masihlah berupa set of phylosophy maka tidaklah mengherankan ketika kita melihat perwujudan sosialisme dalam kehidupan berbangsa, pun juga kapitalisme, liberalisme, neoliberalisme yang kini kita saksikan sendiri. 

Kembali pada UUD 1945 dengan teks aslinya apakah juga bisa menghantarkan pada kebangkitan? Jika yang dimaksud adalah untuk kembali kepada UUD 1945 yang sebelum diamandemen, maka ada yang harus dipertanyakan terlebih dahulu latar belakang yang membuat kita harus mengembalikan hukum pada UUD 1945 sebelum amandemen, jika memang UUD 1945 sebelum amandemen itu adalah yang paling sempurna untuk menjadi sumber hukum, maka mengapa harus ada amandemen? Bukankah amandemen bermakna ‘mengubah ke arah lebih baik’? Menurut Sujatmiko, “amandemen yang pokok itu tidak serampangan dan merupakan hal yang serius. Konstitusi itu merupakan aturan tertinggi bernegara.Beliau berpendapat bahwa konstitusi di negara kita belum sepenuhnya sempurna. Jika ingin menyempurnakan konstitusi satu-satunya pilihan ialah amandemen.” 

Dari keinginan untuk kembali pada UUD 1945 dengan teks aslinya menjadi bukti lain bagi kita bahwa parameter “hukum terbaik” menjadi relatif ketika diserahkan pada segolongan manusia. Manusia melihat sesuatu hal baik atau tidak, bermanfaat atau tidak menjadi relatif tergantung pada siapa yang mendefinisikannya dan zaman dimana ia hidup. Pada tataran ilmu eksakta menjadi hal yang biasa untuk melakukan uji coba trial and error untuk menemukan formulasi terbaik. Akan tetapi, dalam ranah sosial dimana manusia menjadi subjek dan objek sampai kapan kita akan melakukan trial and error dalam memformulasikan hukum terbaik? Oleh karena itu, memperjuangkan Islam sebagai konsep dan metode dalam perjuangan pemuda menjadi hal yang sangat relevan. 

Maka pasca momen sumpah pemuda ini, mari kita ikrarkan sumpah yang baru!
1. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa sistem sekuler, baik kapitalis demokrasi maupun sosialis komunis, adalah sumber pemerintahan rakyat yang sangat membahayakan eksistensi Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya.
2. Dengan sepenuh jiwa, kami yakin bahwa kedaulatan sepenuhnya harus dikembalikan kepada Allah Swt, Sang Pencipta alam semesta, manusia, dan kehidupan, untuk menentukan masa depan Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya.
3. Dengan sepenuh jiwa, kami akan terus berjuan tanpa lelah untuk tegaknya Syariah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah sebagai solusi tuntas problematika Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya.
4. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan kepada semua pihak bahwa perjuangan yang kami lakukan adalah dengan seruan dan tantangan intelektual tanpa kekerasan.
5. Dengan sepenuh jiwa, kami menyatakan bahwa perjuangan yang kami lakukan bukanlah sebatas tuntutan sejarah melainkan adalah konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah Swt.
Wallahu a’lam
Bandung, 29 Oktober 2012 (03:47)
-edited, 30 oktober 2012, 13:44- 

Kamis, 24 Mei 2012

Tentang Kita

Di sela penat, penuh pikiran, banyak tugas, kerjaan numpuk,  kuliah, amanah, dan hal-hal lain yang menyibukkan, pernah nggak sih kita merenung sejenak dan memikirkan beberapa hal dasar mengenai diri kita?
Sebenarnya kita berasal  dari mana?
Untuk apa kita ada di dunia?
Dan setelah selesai di dunia, kita mati, apa yang terjadi pada kita setelahnya dan akan kemana?
Ketidaktahuan atau ketidakjelasan tentang diri kita sebenarnya memang sepertinya tidak pernah lepas dari kehidupan, terutama para remaja dan ABG zaman sekarang. Berbagai kabar berita sekitar remaja seringkali menunjukkan betapa banyak remaja yang masih bingung dengan jati diri. Mulai dari maraknya tawuran antar pelajar untuk membuktikan siapa yang ‘paling jago’, terjerat narkoba demi ‘kesetiakawanan’, hingga banyaknya angka ‘kecelakaan’ di luar nikah atas nama cinta plus aborsi yang nggak tanggung-tanggung dosanya. Fakta tersebut adalah sederet kasus yang menunjukkan betapa mayoritas kita belum atau nggak ngerti dengan jati dirinya sendiri sebagai seorang manusia.
         Ngomongin soal jati diri, kenapa sih kita harus ngomongin soal jati diri? Ya, karena secara fitrah, sebenarnya manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik, lho. Namun, hal itu tidak memberikan suatu jaminan bahwa setiap orang akan berkelakuan dan berakhlak baik, tergantung pada pemikiran dan pemahaman akan jati dirinya yang sebenarnya.
Nah, apabila ketiga pertanyaan tersebut telah terjawab oleh seorang manusia, akan terjawab pula pertanyaan-pertanyaan cabang yang lain. Jawaban terhadap permasalahan mendasar manusia itulah yang kemudian disebut dengan Aqidah. Adapun syarat sebuah aqidah yang benar haruslah sesuai dengan fitrah manusia, dapat memuaskan dan diterima akal manusia, dan memberi ketenangan batin dan menentramkan hati manusia. Lalu, bagaimana jawaban yang menjadi aqidah kaum muslimin terhadap pertanyaan itu?
Para kaum kapitalis mungkin akan menjawab: “manusia itu diciptakan dari materi, kalau mati yaa  jadi materi juga. Lalu hidup di dunia? Yaa untuk mencari materi juga laah”. Haduh, haduh. Cek, cek, apa itu pemikiran kita selama ini tentang jati diri hidup kita, sehingga banyak manusia yang menjadikan hedonisme dan materi sebagai jalan hidupnya? Yo, kita lurusin dulu, nih, bagaimana seharusnya kaum muslimin menjawabnya.
Pertama, bahwa sebelum kehidupan dunia ada Allah SWT dan kita semua berasal dari-Nya. Mengapa kita mengimani adanya Allah? Sebenarnya setiap manusia yang berakal mampu untuk membuktikan tentang eksistensi (keberadaan) Allah SWT, yaitu dengan memperhatikan makhluk ciptaan-Nya. Hal ini akan membuktikan bahwa tidak mungkin sesuatu itu ada tanpa ada yang telah mengadakan (Pencipta).  Allah bahkan mengajak dan memerintahkan kita untuk mengadakan perenungan dan pemikiran tentang-Nya dengan memerhatikan ciptaan-Nya.

“Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. AL-Ghasyiyah: 17-20)

“Hendaklah manusia memperhatikan, bagaimana ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang memancar, yang keluar di antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” (QS. Ath-Thaariq: 5-7)

Namun, meskipun menggunakan akal itu wajib dalam beriman kepada Allah, tidak setiap hal yang wajib diimani dapat dicapai oleh akal manusia. Bagaimana pun jenius dan pandainya pemikiran seseorang, pada dasarnya dia tetap memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, akal manusia tidak akan pernah mampu memahami Dzat dan Hakikat Allah SWT, sebab Allah berada di luar ketiga unsur pokok alam (alam semesta, manusia, dan kehidupan). Hendaknya, ketidakmampuan kita untuk memahami-Nya justru menambah besar keimanannya karena hal itu menunjukkan kelemahannya sebagai makhluk dan ketidakterbatasan kekuasaan Allah SWT.
Lalu, mengapa Allah menghadirkan kita di dunia? Untuk apa? Apa kita hanya lahir, tumbuh besar, lalu masuk sekolah, beranjak dewasa dan mendapatkan pekerjaan, menikah, punya anak, lalu mati? Apa hanya untuk melewati siklus itu sajakah makna hidup kita yang telah Allah berikan ke setiap manusia selama ini?

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu'minuun: 115)

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Jelas Allah memiliki maksud menciptakan kita semua, mas, mbak. Untuk beribadah, menaati apa yang diperintahkan oleh Yang Menciptakan Kita, tentunya. Lho, memang harus ya?
Hm, analoginya begini deh. Misal kita menciptakan sebuah robot, pasti kita punya tujuan yang tentunya menjadikan kita ‘like a boss’ lah ya, ga mungkin itu robot malah ngatur-ngatur kita. Dan kita pasti akan berusaha untuk menghindarkannya dari hal-hal yang akan merusaknya, karena yang paling tahu tentang ciptaan kita kan ya kita sendiri. Nah, begitu juga dengan Allah. Semua yang diperintahkan itu pasti sesuai kok dengan fitrah kita sebagai manusia, tidak merusak kita, bahkan menunjukkan jalan yang lurus untuk menyelamatkan kita dari dunia ini. Itulah mengapa ada Al-Qur’an dan mengapa kita harus menjadikannya pedoman hidup. Karena yang tahu tentang diri kita tidak lain ya Yang Menciptakan Kita, bukan?
Setelah kita hidup di dunia, ada masanya kita akan merasakan mati. Apakah semuanya berakhir disana saja? Atau ada kelanjutannya?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. “  (QS. Ali ‘Imran: 185)

Ayat di atas menjelaskan adanya hari kiamat, serta syurga dan neraka, sebagai tempat terakhir yang akan kita tempati setelah mati. Syurga, itulah kampung halaman kita sebenarnya, masbro, mbaksis. Untuk pulang ke kampung halaman kita itu, tentu kita butuh bekal yang cukup agar sampai tujuan. Nah, inilah yang menjadi penghubung dengan kehidupan kita di dunia. Umur, sebuah nikmat yang tak ternilai! Kita diberi umur di dunia untuk mencari bekal kita pulang ke syurga. Imam Hasan Al Basri yang patut menjadi teladan dalam menggunakan waktunya secara efektif pernah berkata,
“Aku sangat terpukul oleh satu kalimat yang pernah kudengar dari Hajjaj, ketika ia berkhutbah di atas mimbar ini. Sesungguhnya ‘satu saat’ dari umur seseorang telah hilang atau sirna untuk sesuatu di luar hakikat manusia diciptakan maka pantas jika ‘sesaat’ itu menjadi penyesalan seumur hidupnya hingga hari kiamat tiba.”
Ungkapan di atas bukanlah sebuah khayalan yang tidak memiliki fakta ataupun makna. Namun, ungkapan tersebut adalah sebuah kebenaran, sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Tidak ada sesuatu yang paling disesali oleh para penghuni syurga, kecuali atas satu saat yang pernah mereka lalui di dunia, yang tidak mereka gunakan utnutk mengingat Allah di dalamnya.” (HR. Thabrani)
Lho, lho, kok yang menyesal justru para penghuni syurga? Ya, para penghuni syurga saja menyesalkan sebagai manusia biasa, mereka pun juga pernah lalai dan lengah, dan inilah yang mereka sesalkan. Jika demikian kenyataannya, itu artinya, sudah pasti penyesalan penghuni neraka akan lebih pahit dan mendalam ketika menyadari kesia-siaan waktu mereka ketika di dunia.

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”(QS. AL-Faathir: 37)

Betapa menyesalnya orang-orang yang menyia-nyiakan hidupnya di dunia. Kita yang sudah mengetahui hakikat kita di dunia, maka apa pilihan kita sekarang? Kehidupan seorang manusia rata-rata nggak jauh dari umur saat Rasulullah wafat. Itu nggak lama, kok, dibanding lamanya kita di alam kubur nanti, atau di akhirat yang kekal. Hebatnya kaum muslimin dibanding yang lain adalah kita tidak diperintahkan untuk mencintai dunia, sehingga kita sibuk berharap agar dipanjangkan umur, tapi kita benar-benar diingatkan tentang indahnya kehidupan setelah ini jika kita bisa meraihnya. Tapi, apa yang terjadi saat ini? Banyak saudara seiman kita yang sibuk bergalau, dan takut jika dihadapkan pada kematian.

Diriwayatkan dari Tqausan r.a Rasulullah SAW bersabda: “akan terjadi, bersatunya bangsa-bangsa didunia menyerbu kalian seperti sekelompok orang menyerbu makanan”. Salah seorang sahabat bertanya: “apakah karena jumlah kami dimasa itu sedikit”. Rasulullah menjawab : “jumlah kalian banyak tapi seperti buih dilautan. Allah mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian dan Allah menanamkan penyakit ‘wahan’ dalam hati kalian.” Lalu ada yang bertanya lagi :“apakah penyakit ‘wahan’ itu ya rasulullah?” Beliau bersabda : “ Cinta kepada dunia dan takut mati”

Life is choice, saudaraku. Tidak semua orang yang tahu akan hakikatnya di dunia akan menggunakan umurnya untuk melakukan sebagaimana tujuan Allah menciptakan manusia. Sebagai sesama muslim, bukankah tiada hal yang lebih indah daripada melihat sesama kita selalu saling mengingatkan kepada Allah, tempat kita kembali?  ^__^
Wallahu a’lam bisshawwab.

Jumat, 13 April 2012

Ketika Wanita Meminta Hak Melebihi Fitrahnya


Belakangan ini terdengar munculnya Rancangan Undang-Undang Keadilan dan Kesetaraan Gender (RUU KKG). Hah apakah itu? Entahlah, pemerintah berulah lagi terhadap rakyatnya yang padahal mereka tahu mayoritas muslim. Yang pasti aku menolak, karena cobalah kalian runut baik-baik, jauh menyimpang dari syari'ah.  -__-'

Karena justru banyak yang mendukung, coba aku jelaskan sedikit deh.

Yah berikut beberapa isinya,


Pasal  12
Dalam perkawinan setiap orang berhak:
a. memasuki jenjang perkawinan dan memilih istri atau suami secara bebas;
b. memiliki relasi yang setara antara suami dan istri;
c. atas peran yang sama sebagai orang tua dalam urusan yang berhubungan dengan anak;
d. menentukan secara bebas dan bertanggung jawab menentukan jumlah anak dan jarak kelahiran;
e. atas perwalian, pemeliharaan, pengawasaan, dan pengangkatan anak; dan
f. atas pemilikan, perolehan, pengelolaan, pemanfaatan, pemindahtanganan beserta pengadministrasian harta benda.


Negara berkewajiban untuk:
1.   melindungi setiap orang dari segala bentuk diskriminasi;
2.  mewujudkan kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang setara dan adil.
3.  menjamin terlaksananya upaya penghapusan diskriminasi dalam bidang hukum, politik, sosial, ekonomi dan budaya;
4. membentuk peraturan perundang-undangan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya untuk menjamin kesetaraan dan keadilan gender.
5.  menyusun tindakan khusus sementara untuk mewujudkan kesamaan dalam memperoleh akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat  pembangunan antara perempuan dan laki-laki di semua bidang kehidupan;
6.   menyusun dan melaksanakan kebijakan yang tepat untuk mengubah perilaku sosial dan budaya yang tidak mendukung kesetaraan dan keadilan gender; dan
7.   Memberikan jaminan terhadap status kewarganegaraan perempuan agar tidak berubah secara otomatis sebagai akibat dari perkawinan dengan orang asing.

Pasal 15
Setiap warga negara berkewajiban untuk:
1.      mencegah terjadinya kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan yang merendahkan martabat manusia;
2.     memberikan informasi yang benar dan bertanggung jawab kepada pihak yang berwenang jika mengetahui terjadinya kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan yang merendahkan martabat manusia;
3.      melakukan upaya pelindungan korban kekerasan, diskriminasi, dan perlakuan yang merendahkan martabat manusia;
4.      menanamkan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan gender kepada anak sejak usia dini dalam keluarga;
5.      membangun relasi yang setara antara perempuan dan laki-laki; dan
6.      memenuhi tanggung jawab yang sama sebagai orangtua dalam urusan yang berhubungan dengan anak.

Gila, mereka menginginkan posisi kepala keluarga bisa dimiliki pada wanita? Wanita bisa seenaknya menuntut suaminya jika ia tak mau mendengar perintah suaminya? Para perancang RUU ini mayoritas muslim, lho. Apa benar-benar nggak sadar sudah menyimpang dari aturan Allah, atau memang sengaja mereka mengabaikan kitab mereka sendiri? Ya sudahlah, makin lama pemerintah itu memang semakin jauh saja dari kaidah Islam. Lha wong sistem yang mereka buat aja udah nggak benar kok. :P

Anyway, mengenai RUU KKG ini sebenarnya bagaimana awalnya sih, kok bisa tiba-tiba ada?
Wanita protes, merasa terdiskriminasi? Merasa lebih rendah dari laki-laki??
Great, inilah yang diinginkan oleh barat. Membuat wanita merasa terdiskriminasi dan meminta hak yang lebih daripada fitrahnya. Inilah lanjutan dari Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW). Gerakan demi gerakan feminisme telah dicanangkan oleh barat, dan kini menyebar di seluruh dunia. Mereka ingin kita tertipu dengan kata-kata 'penghilangan diskriminasi' pada wanita. Padahal jauh daripada itu, inilah awal mula wanita menjadi lupa akan akan hakikatnya, mulai meminta lebih, bahkan ingin menikahi sesamanya! w(*A*w) Na'udzubillaahi min dzalik.

Cobalah runut isinya, kawan. RUU ini bisa mengobok-obok ranah keluarga! Dimana seorang ibu yang seharusnya ada untuk anaknya? Banyak wanita yang telah lupa pada hakikatnya sebagai wanita! Mereka memilih untuk menunda, bahkan untuk tidak memiliki anak, karena lebih mengutamakan posisinya dalam hal lain.
Bisakah kalian bayangkan, ketika seorang anak meminta untuk diberi makan, diberi arahan, dijawab segala pertanyaannya, diberi perlindungan, apa yang sebenarnya ia butuhkan untuk memenuhi semua itu? Hanya satu, ibu! 

Sebenarnya apa yang mereka, para wanita inginkan sih?
Ingin dihargai? Didengar pendapatnya? Diberi hak pendidikan? Diberi hak politik? Disayang? (ce'ila~)

Well, check these out.

Sabda Rasulullah,
"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dengan istri-istrinya." (HR. Ahmad dan Tarmidzi)

Dari Muawiyah bin Haidatal Qusyairi, "aku bertanya Rasulullah SAW, siapakah orang yang paling patut aku berbuat baik? Rasulullah SAW menjawab : ibumu, kemudian aku bertanya lagi siapa? Rasulullah menjawab : ibumu. Kemudian aku bertanya lagi siapa? Rasulullah menjawab: ibumu, kemudian aku bertanya lagi siapa? Rasulullah menjawab : bapakmu, kemudian orang yang paling hampir denganmu dan seterusnya." (Hadis Riwayat at-Tirmizi)
See? Islam sangaat memuliakan wanita.


Lalu apalagi? Menginginkan hak untuk mengenyam pendidikan? Islam tidak menjadikan menuntut ilmu adalah sebuah hak. Tetapi lebih daripada itu, menuntut ilmu merupakan kewajiban, dan tidak hanya bagi laki-laki, namun juga perempuan.
"Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat." (HR. Ibnu Abdil Bari)

Hak politik untuk wanita? Diberikan kok, coba lihat ketika Umar bin Khattab menyampaikan khutbah di atas mimbar, Umar menyampaikan bahwa Umar hendak membatasi mahar sebanyak 400 dirham, sebab nilai itulah yang dilakukan oleh Rasulullah, jika ada yang lebih dari itu maka selebihnya dimasukkan ke dalam kas negara. Hal ini diprotes langsung oleh seorang wanita, di depan orang-orang saat itu, dengan perkataannya: "Wahai Amirul mu'minin, engkau melarang mahar untuk wanita melebihi 400 dirham?" Umar menjawab: "Benar." Wanita itu berkata: "Apakah kau tidak mendengar firman Allah: 
"...sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?" (QS. An-Nisaa': 20)
Umar menjawab: "Ya Allah ampunilah, semua manusia lebih tahu dibanding Umar." Maka Umar pun meralat keputusannya. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/244. Imam Ibnu Katsir mengatakan: sanadnya jayyid qawi (baik lagi kuat). Sementara Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini menyatakan hasan li ghairih)

Dan ingatkah bahwa wanita itu awalnya diciptakan dari tulang apa? Apakah dari tulang tengkorak, dimana tempat paling tinggi maka memang seharusnya paling dihormati? Atau dari tulang kering, yang letaknya di bawah, kalau memang wanita biasa diinjak-injak (iya kaleee -_-' )?
Tapi, wanita itu awalnya diciptakan dari tulang rusuk, yang kedudukannya terletak di dada dan mudah dijangkau tangan. Artinya kan wanita memang diciptakan untuk disayangi~ dan dilindungi~. ya kan, ya kan~? #PLAKK
^^^wait, sumpah buat tulisan di atas aku hanya mengutip kata-kata kakak tingkatku ==v

Jadi, apa solusi dari teriakan wanita sekarang yang meminta haknya?? Hanya satu, yaitu Islam. Tapi, mengapa sekarang walau kita sudah menjadi muslim tapi masih saja terdengar adanya diskriminasi terhadap wanita? Masih saja ada kasus KDRT? Pemerkosaan? Dan tidak dihargainya pendapat dari wanita? Kemana Islam yang katanya melindungi, memuliakan, dan mendengarkan wanita??

Kawan-kawan, kita tidak bisa melihatnya, karena kemuliaan Islam dapat dilihat hanya ketika Islam diterapkan seluruhnya. Dan Islam tidak akan pernah bisa diterapkan seluruhnya tanpa adanya sistem Islam yang diterapkan. Dan sistem Islam tidak akan tegak tapa adanya suatu institusi berupa Daulah Khilafah Islamiyah.
Maka, ketika wanita sekarang meminta hak-haknya, apa yang seharusnya mereka perjuangkan? Tidak lain perjuangkanlah penegakkan Khilafah. Sadarkanlah kawan-kawan kita bahwa yang mereka butuhkan sebenarnya adalah tegaknya Islam sebagai dasar hukum di dunia, tegaknya hukum Allah, Yang menciptakan kehidupan. 
Bukan justru meminta agar disetarakan dengan laki-laki. Di hadapan Allah, laki-laki dan perempuan sama kok kedudukannya, tahu sendiri kan kalau yang membedakan kedudukan seseorang di hadapan PenciptaNya hanyalah tingkat ketaqwaannya. Dan memang, perempuan diciptakan dengan tenaga yang tidak sebesar laki-laki, pasti semua orang juga menyadari hal itu. Bayangkan jika gender memang disetarakan, ketika ada seorang ibu membawa karung beras, lalu ada seorang laki-laki melihatnya, maka bisa saja laki-laki tersebut akan berpikir, "ah, kan wanita atau laki-laki sudah setara sekarang. Berarti itu ibu kuat2 aja, sama kuatnya kayak laki-laki angkut beras." Penghargaan laki-laki terhadap wanita semakin runtuh!

Tidak sadarkah apabila manusia mulai menuntut lebih diluar yang telah ditetapkan oleh Allah, disanalah mereka memulai kebobrokan? Disanalah wanita memulai kebobrokan atas dirinya, ketika wanita tersebut menganggap syari’at Islam dalam menggunakan kerudung dan jilbab justru mendiskriminasikan dirinya. Tidakkah mereka berpikir bahwa syari’at yang ditetapkan Allah tersebut adalah penjagaan kehormatan untuknya? Justru dengan itulah mereka mendapat kebebasan untuk menjaga dirinya. Lihatlah iklan-iklan sekarang kebobrokannya, yang menjual wanita. Sebagai contoh, iklan mobil. Mereka lebih menonjolkan wanita dengan pakaian yang tidak syar’i disana. Untuk apa? Padahal dalam hal meningkatkan penjualan mobil tidak ada hubungannya dengan wanita disana.

Wahai para wanita, kaulah dalang dari setiap pembentukan generasi. Jagalah dirimu, hormati dirimu, dan kenalilah fitrahmu sebenarnya. Kalau kini kau merasa terdiskriminasi akan hakmu, yang kau butuhkan adalah Islam. Dan kamu baru bisa merasakan betapa Islam memuliakan wanita hanya ketika Islam diterapkan secara menyeluruh, dalam Daulah Khilafah. Maka berjuanglah untuk menegakkannya!


'Wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya baik, maka baiklah negara itu, tapi bila wanitanya buruk, maka buruk pulalah negara itu.'' (al-hadist)


Wallahu a'lam bishawwab.

Minggu, 18 Maret 2012

Aku dan Jilbab



Jilbab. Mendengar kata itu, beberapa bulan yang lalu, mungkin yang terbenak di kepalaku adalah sebuah penutup kepala yang dipakai kaum muslimah. Namun ternyata, apa yang aku pahami selama belasan tahun ini salah. Aku baru memahami makna jilbab sebenarnya dan kewajiban memakainya sekitar beberapa minggu yang lalu. Seorang kakak tingkat menjelaskan padaku, bahwa jilbab yang dimaksud disini adalah yang sering kita sebut sebagai gamis. “Tapi, selama ini aku nutup aurat, make rok, make baju atasan yang panjang, nggak tipis, nggak ketat… nggak apa-apa dong, kak?” Wah, persepsi aku tentang hal ini runtuh ketika yang dikatakan bukan lagi dari persepsi si kakak, tapi dari Qur’an dan hadits, serta tafsir beberapa ulama.

 “Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mu'min, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu.."(QS Al Ahzab: 59)

Aku yang selama ini ketar-ketir bingung memikirkan hal ini semenjak sudah mengetahuinya (sebelum si kakak menjelaskan), jadi semakin gemetar melihat pakaian yang kupakai saat itu. Jadi, selama ini, setertutup apa pakaianku, ternyata masih melanggar syara’? Huaaaa TT0TT
Setelah itu, ketika perjalanan pulang, di jalan, di angkot, aku malu! Tak tahan rasanya ingin cepat-cepat sampai. Serasa tak berpakaian, serasa menanggung beban yang aku tahu; bernama dosa. Dosa telah melanggar syari’atNya. Namun ada yang aku lebih sedihkan lagi. Ummati. Dimanapun aku berada, jarang sekali yang kulihat memakai jilbab. Kebanyakan aktivis dakwah pun berpakaian sama sepertiku saat itu; rok panjang, kerudung panjang, dan baju atasan yang panjangnya tak sampai mata kaki. Dulu, sebelum aku berpakaian seperti itu, aku merasa apa yang dipakai para aktivis dakwah sangaaaat baik. Mereka menjaga diri mereka dan attitude mereka itu lho, wah, anggun banget! Tapi ternyata belum sempurna apa yang mereka pakai… sedihnya, terasa percuma aja euy selama ini! :-(
Aku yang saat itu tak punya jilbab, menyegerakan diri untuk meminjam pada temanku yang sudah berjilbab. Aku tak peduli pandangan orang lain karena dalam hadits pun Rasulullah menyuruh kepada saudara seorang muslimah untuk meminjamkan jilbab apabila ia tak memilikinya.

Esoknya, 23 Februari 2012, aku siap berkomitmen untuk berjilbab. Masih ketar-ketir soal pakaian? Oh nggak dong, dan rasanya senang bukan main; hati tenang euy! :D :D
Apa setelah itu orang lain diam? Hm, beberapa hari tak lama, sebagian temanku mulai berkilah melihat aku yang suka minjam jilbab 
“Islam itu nggak memberatkan kok…”
“Itu kan pas zamannya rasul, dulu mah muslimah make bajunya bukan yang kayak sekarang, tapi pake semacam selimut/gorden gitu, sekarang mah menyesuaikan, Vi...”
Aku sempat nangis juga, memikirkan jilbab dan pendapat teman2 asramaku yang seolah tak mendukungku. Aih, lantas apa yang dikatakan Qur’an itu hanya disesuaikan untuk orang terdahulu? Lha, yang berbeda dengan zaman dulu dan sekarang kan hanya cara, bukan tata caranya. Tentu aja kalau dulu Rasulullah berkendara pake onta, sekarang kita gak mungkin pake onta juga kan? Semua yang disyari’atkan Allah dalam Qur’an-Nya persis ditujukan untuk seluruh umat hingga akhir zaman. Dan Islam nggak memberatkan? Lha, memang pakai jilbab memberatkan ya? Nggak kok, sama aja rasanya kayak pakai rok kalau gerak kemana-mana juga. Nggak ada alasan syar’i untuk menentang syara’ yang satu ini kalau berada di tempat umum dimana laki-laki dan perempuan bercampur. Seperti inilah yang diperintahkan, aku dengar ya aku taat dong (ce’ila~). Dan semua syari'at yang telah Allah tetapkan sudah pasti sesuai dengan kesanggupan manusia, sesuai dengan fitrahnya manusia. Tidak memberatkan!
Lalu datanglah hari dimana aku harus lari, eh maksudnya ceritanya lagi mau ada pelajaran olah raga gitu nih. Heheh. Pakaian olahraga yang dipakai kan celana, bukan rok, apalagi jilbab. Mulai perang batin lagi, “udah pake aja itu celana… toh longgar ini kan?” itulah bisikan setan yang menghantuiku menuju detik-detik keputusanku. Dan terngiang-ngiang lagi mengenai 'slam itu mudah, tak menyusahkan perkataan temanku. Terdengar argumen "kondisi darurat nih". Parah banget sempat kepikiran begitu! Dan aku juga takut tabarruj (menarik perhatian) karena ga ada yang memakai jilbab saat olahraga. Tapi sehari sebelum praktek olah raga ke lapangan, alhamdulillah Allah melangkahkan kakiku untuk bertemu seseorang yang mengingatkanku lagi, untuk tidak memikirkan "yang penting..." tapi pikirkanlah, melanggar hukum syara' atau tidakkah kita? Tabarruj memang harus dihindari, tapi bukan dengan melanggar syara' dong. Dan apakah dengan memakai jilbab akan mengancam jiwa kita? Tidak kan? Kita bisa melakukannya, maka itu bukan dalam kondisi darurat. Hatiku mantap deh untuk tetap berjilbab. Terlebih setelah mendengar perjuangan kakak tingkatku yang berjilbab saat olahraga sulit, namun beliau tetap istiqomah untuk tidak melanggar syara'. Aku jadi malu sendiri rasanya melihat lemahnya diriku. Hu hu.
Esoknya saat pelajaran olahraga, mengharuskan lari 6 putaran sejauh kurang lebih 2,4km. Aku paling ga kuat lari euy :-( hehe. Tapi dengan jilbab  aku merasa setiap pergerakanku adalah ibadah, untukNya aku begini, jika mungkin ada yang terheran-heran melihat apa yang aku pakai saat olahraga. Selama pelajaran olahraga berlangsung, alhamdulillah tidak ada yang menyulitkan ^__^. Si ibu dosen tidak begitu memperhatikan atau menghiraukanku.

Jadi? Masih mau bilang jilbab itu memberatkan dan nggak zaman?

"Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)

Jadikanlah semua perbuatanmu ibadah kepadaNya dengan menaati syari'atNya setiap waktu dalam hidupmu! 
^__^

Selasa, 28 Februari 2012

Ancaman Bagi Orang yang Membuka Auratnya

Imam Muslim menuturkan sebuah riwayat, bahwasanya Rasulullah saw bersabda;
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
Ada dua golongan manusia yang menjadi penghuni neraka, yang sebelumnya aku tidak pernah melihatnya; yakni, sekelompok orang yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia; dan wanita yang membuka auratnya dan berpakaian tipis merangsang berlenggak-lenggok dan berlagak, kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan dapat masuk surga dan mencium baunya. Padahal, bau surga dapat tercium dari jarak sekian-sekian.”[HR. Imam Muslim].
Di dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawiy berkata, “Hadits ini termasuk salah satu mukjizat kenabian. Sungguh, akan muncul kedua golongan itu. Hadits ini bertutur tentang celaan kepada dua golongan tersebut. Sebagian ‘ulama berpendapat, bahwa maksud dari hadits ini adalah wanita-wanita yang ingkar terhadap nikmat, dan tidak pernah bersyukur atas karunia Allah. Sedangkan ulama lain berpendapat, bahwa mereka adalah wanita-wanita yang menutup sebagian tubuhnya, dan menyingkap sebagian tubuhnya yang lain, untuk menampakkan kecantikannya atau karena tujuan yang lain. Sebagian ulama lain berpendapat, mereka adalah wanita yang mengenakan pakaian tipis yang menampakkan warna kulitnya (transparan)…Kepala mereka digelung dengan kain kerudung, sorban, atau yang lainnya, hingga tampak besar seperti punuk onta.”
Imam Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah dengan redaksi berbeda.
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَا أَرَاهُمَا بَعْدُ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ عَلَى رُءُوسِهِنَّ مِثْلُ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَرَيْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَرِجَالٌ مَعَهُمْ أَسْوَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ
Ada dua golongan penghuni neraka, yang aku tidak pernah melihat keduanya sebelumnya. Wanita-wanita yang telanjang, berpakaian tipis, dan berlenggak-lenggok, dan kepalanya digelung seperti punuk onta. Mereka tidak akan masuk surga, dan mencium baunya. Dan laki-laki yang memiliki cambuk seperti ekor sapi yang digunakan untuk menyakiti umat manusia “[HR. Imam Ahmad]
Hadits-hadits di atas merupakan ancaman yang sangat keras bagi wanita yang menampakkan sebagian atau keseluruhan auratnya, berbusana tipis, dan berlenggak-lenggok.